Showing posts with label local cuisine. Show all posts
Showing posts with label local cuisine. Show all posts

Thursday, August 30, 2012

surabi atau serabi















"What's in a name?" - Shakespeare






Si Pacar bilang nama yang benar adalah serabi. Sementara menurut saya, sesuai juga dengan nama tempat makan yang kami datangi, Soerabi Enhaii, nama yang benar adalah surabi. Tapi, sesuai dengan kutipan Shakespeare di atas, apalah arti sebuah nama kan? Tempat makan Soerabi Enhaii yang belum lama dibuka dan terletak di Jalan Margonda Raya ini selalu ramai. Begitu juga ketika saya dan Pacar mampir ke sana hari Sabtu sore minggu lalu. Karena belum makan siang, saya memesan fillet ikan asam manis, sementara Pacar memesan surabi cokelat keju spesial. Menu fillet ikan asam manisnya disajikan dengan capcay goreng dan seporsi nasi. Untuk ukuran tempat makan dengan spesialisasi surabi, fillet ikannya dan bumbu asam manisnya cukup enak. Sementara itu, porsi surabi yang disajikan cukup besar. Taburan cokelat dan kejunya juga sangat kaya. Karena menu yang kami pilih adalah surabi cokelat keju spesial, surabinya disajikan dengan saus manis (semacam selai tapi lebih cair) yang melimpah. Jika dilihat-lihat, sekilas sajian surabi ini mirip sekali dengan pancake. Saya bahkan sempat kaget ketika menggigit surabi dan menyadari bahwa yang saya makan adalah surabi dan bukan pancake










Wednesday, June 13, 2012

on porridge

Beberapa kali saya menanyakan bubur ayam yang enak di daerah Margonda, Depok, dan teman-teman saya selalu menjawab "Coba Bubur Ayam Sinar Garut." Setelah beberapa kali celingak-celinguk setiap lewat Margonda, saya akhirnya menemukan tempatnya yang berupa tenda yang baru didirikan menjelang malam. Waktu saya ke sana, masih jam 7 malam dan tempatnya masih cukup sepi.

Sinar Garut menyediakan bubur dengan beragam penyajian seperti dengan telur ayam yang bisa matang atau setengah matang, dengan berbagai pilihan jeroan (bagian dalam) ayam, dengan cakwe dan lain sebagainya. Selain bubur, makanan yang juga disajikan adalah mie instan dan roti bakar. Malam ini saya memesan bubur ayam biasa untuk saya dan bubur ayam dengan telur untuk si pacar. Penyajian buburnya menarik, menurut saya, karena pemberian cakwe dan cheese stick yang royal. Untuk menemani bubur yang saya makan, saya memilih sate telur puyuh yang disajikan di meja bersama sate usus, sate ati dan sate ampela. Begitu saya mengaduk bubur saya (ya, saya adalah tipe orang yang mengubah tampilan bubur yang menarik menjadi tidak menarik dengan mengaduk dan mencampur seluruh isinya), baru saya dasar kalau buburnya tidak menggunakan kaldu dan kering yang menurut saya sangat aneh, tetapi mungkin memang begitu cara penyajian bubur ala Garut. Mungkin karena tidak memakai kaldu itu, menurut saya rasa buburnya biasa saja. Malah saya agak kurang menikmati buburnya karena terlalu kering dan padat. Jadi, bubur ayam Sinar Garut jelas bukan termasuk jenis bubur favorit saya. Sejauh ini bubur yang paling enak yang pernah saya coba adalah bubur di restoran Ta Wan, bubur manado di restoran masakan manado di ITC Kuningan dan bubur ayam tenda di daerah Pondok Pinang, Jakarta Selatan.






Sunday, February 26, 2012

asinan betawi ibu yenni

Akhirnya bisa mampir lagi ke kedai Asinan Betawi Ibu Yenni. Terakhir saya mampir ke sini bulan Februari tahun lalu saat mau ambil pesanan burger di Blenger Burger (yang letaknya bersebelahan dengan kedai asinan ini) untuk acara ulang tahun teman kantor. Saya suka banget sama asinan Betawi ini. Asinan yang dijual di sini adalah asinan sayur yang terdiri dari selada, tauge, kol, ketimun dan tahu. Dan yang paling saya suka adalah bumbu kuahnya yang sangat segar dan pedasnya pas. Tapi sayang, kuahnya sudah dijual per paket, jadi tidak bisa minta tambah kuah ekstra. Seporsi asinan dijual dengan harga 10ribu. Sangat teramat sepadan untuk seporsi asinan segar.




Thursday, February 23, 2012

bakmi djawa

I have been craving for bakmi djawa (javanese noodle) since last month. My favorite one was the one served in Sagoo Kitchen. I have not got the chance to go there. But yesterday my craving was satisfied when boyfriend and I stopped by in a small food stall (more like a food hawker) during our way back home. It was my boyfriend who noticed the stall's name Bakmi Djawa Pak Ikhsan and asked me whether I was still craving for bakmi djawa. And since I was craving for it, so we had our super early dinner (at 6 pm) there. The stall is pretty small and clean. When I saw the menu, I noticed that they only serve 4 kinds of food, namely noodles (served in a gravy or fried), vermicelli, satay and fried rice. So, their bakmi djawa must be good, I thought. And I was right. It did not take much time to cook the bakmi godok which is the name for the noodle soup that consists of noodle, egg, chicken, otak-otak (fish cakes) tomato and cabbage. The bakmi godok really tasty, especially the gravy. I really love the noodles which is sort of similar to spaghetti. But I think the egg smell is too strong, maybe it is because they soft-boiled the egg before pouring the gravy. But, I really enjoyed the bakmi godok which costs only IDR 14,000. Yum yum.


 



Monday, December 19, 2011

pempek dan lamien

Berikut beberapa foto pempek yang saya coba di Pempek Pak Raden yang terkenal itu. Karena saya penggemar makanan berkuah, terutama yang rasanya manis, asam dan pedas, saya sangat suka kuah pempek Pak Raden yang disediakan dalam botol di meja, jadi semua orang bisa menakar sesuai keinginan. Saya juga mencoba otak-otaknya. Rasanya juga cukup enak. Beberapa waktu yang lalu, saya juga akhirnya kesampaian makan lamien di Golden Century di Pondok Indah Mall. Sayangnya, lamien vegetarian yang saya idam-idamkan udah engga ada lagi di menu. Sebagai penggantinya, mereka menyajikan lamien asam pedas yang rasanya agak mirip dengan hot and sour soup. Tapi, menurut saya masih lebih enak lamien vegetarian.




lamien daging sapi

lamien asam manis

Thursday, December 1, 2011

should have posted this long time ago

The title clearly shows that I was too lazy to post this one because I forgot to copy these images taken from my Canon digital camera to my flash-disk. Anyway, after seeing these photos, I promise myself that I'll always bring my digital camera to take the pictures of those mouth watering dishes. Compared to my smartphone's camera (yes you're right, there is no way a girl with such a simple blog design could use an android smartphone, and since I'm not really interested with Apple's products, I use a Blackberry smartphone indeed), the quality of the images taken from my digi-cam is way much better (of course, Nov. Duh!). Therefore, I swear I'll always keep my super compact digi-cam safely in my handbag.
Anyway, back to the post, on May 17, my two best friends and I went to Sagoo Kitchen in Margo City. For those of you who are not familiar with the this restaurant, kindly please check its Facebook profile. Basically, Sagoo Kitchen offers the theme "good old days" through its homey restaurant design (can be seen from its woody furniture, posters, and so on), food and beverages it serves, and various kind of snacks displayed and sold in the restaurant. We only ordered two kind of meals namely Mee Kuah Djawa (noodle soup, my favorite dish) and Rojak something (
forget the name but it is a mixed fruits topped with sauce). I have visited this restaurant several times and I can say it is one of my favorite places to hang out.

teh tubruk (hot tea)

mee kuah djawa

teh tarik (hand-pull milk tea)

rojak